YLBHU Mengecam Penghentian Pasokan Makanan dan Air kepada Pengungsi Syiah

May 3, 2013Admin

Jakarta, 3 Mei 2013

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia (YLBHU) mengecam keras tindakan Pemkab Sampang yang menghentikan pasokan makanan dan air bersih sejak 1 Mei 2013, serta upaya paksa relokasi terhadap pengungsi Syiah di GOR Sampang.

 

Tindakan Pemkab Sampang tersebut patut dinilai sebagai tindakan negara yang tidak bertanggungjawab, tidak manusiawi dan lalai melindungi hak-hak minoritas termasuk pengungsi Syiah yang dilindungi oleh undang-undang.

 

YLBHU karena itu mendesak Pemkab Sampang untuk segera kembali memberikan bantuan makanan dan air bersih kepada para pengungsi yang menjadi hak pengungsi.

 

YLBHU menyerukan agar para pengungsi segera dipulangkan ke kampung halaman mereka, karena di sanalah mereka mencari penghidupan.

 

YLBHU juga mendesak lembaga-lembaga negara dan lembaga-lembaga kemanusian untuk lebih serius memperhatikan nasib pengungsi Syiah.

 

Seperti sudah banyak diberitakan media, sekitar 600 penganut Syiah terpaksa mengungsi ke GOR Sampang menyusul tragedi berdarah 26 Agustus 2012 di Kecamatan Omben dan Karang Gayam.

 

Satu orang tewas, 49 rumah dan sbeuah masjid dibakar, setelah sekitar 200 orang menyerbu dan membakar rumah-rumah penganut Syiah.

 

Mereka menggunakan berbagai senjata tajam dan bom molotov, dan mengusir para penganut Syiah dari kampung halamannya.

 

Kasus ini menyeret Tajul Muluk, tokoh Syiah di Sampang ke penjara dengan tuduhan menyebarkan aliran sesat, sementara Rois Hukama yang didakwa sebagai penghasut dan penggerak aksi kekerasan terhadap warga Syiah Sampang, malah dibebaskan oleh pengadilan.

 

Koordinator Pengungsi, Iklil menyatakan, kondisi para pengungsi di GOR Sampang selama sembilan bulan terakhir kini sangat memprihatinkan setelah tidak ada perhatian dari lembaga-lembaga negara.

 

Upaya para pengungsi untuk kembali ke kampung halaman mereka di Omben dan Karang Gayam, terus mendapat hambatan.

 

Pemkab Sampang melalui Dinas Sosial, sebaliknya terus berupaya agar para pengungsi bersedia direlokasi, yang tentu saja ditolak oleh para pengungsi.

 

“Kami tetap ingin pulang, karena tanah, ladang, dan ternak kami ada di sana. Sumber penghidupan kami ada di kampung kami,” kata Iklil.

 

Mereka juga menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara dan minoritas dilindungi dan dijamin oleh negara.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post