Siapa Aktor Intoleransi ?

November 1, 2012lbhu

MINGGU lalu, sekitar 3.000-an warga kampus dan masyarakat luas berjubel  di Aula Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ample, Surabaya. Mereka tertarik mengikuti Dialog Publik “Perlukah Syiah ditolak?” Acara penting ini sempat diboikot oleh penganjur intoleransi dan penikmat hedonisme teologi. Salah satu sesi menarik terjadi ketika Emha Ainun Najib menantang kaum radikal yang anti-Syiah untuk menyebutkan ayat al-Quran atau Hadis yang memberi “licence to kill”. Tidak seorang pun mampu menyebut ayat yang diminta Emha. Tuhan tidak pernah mengulurkan tongkat penumpas perbedaan dan memberangus perbedaan tafsir. Sekalipun demikian, berhentikah kecaman, agresi, dan aksi provokasi terhadap kelompok minoritas di Indonesia? Minoritas dalam agama atau tafsir atau transmisi (dirayah) teks Islam. Tidak sama sekali.

Angka intoleransi beragama dan berhadapan dengan perbedaan di Indonesia terus membubung tinggi. Intoleransi, alergi perbedaan, dam kemudian aksi kekerasan bertameng bela kehormatan, atau atas perintah agama, semarak. Ada apa denganmu, wahai bangsa Bhinneka Tunggal Ika? Sudah bosankah dirimu dengan takdir sucimu?Atau hanya karena segelintir anak-anakmu ngambek karena dirimu gagal menebar kue ekonomi, mengabaikan rasa keadilan hukum sehingga mereka meminta perlindungan dari serangan ideologi sekuler?

Mari kita lihat hasil riset terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Yayasan Denny JA. Bila pada 2005, 13,9  persen warga menyetujui aksi kekerasan terhadap Ahmadiyah, pada 2010 angkanya bergerak menjadi 30,4 persen. Pada 2005 35,2 persen warga setuju Pemerintah melarang Ahmadiyah, pada 2009 menjadi 53,4 persen. Ini mengejutkan. Angka-angka intoleransi merangkak naik. Per 21 Oktober 2012, ditemukan bahwa mayoritas masyarakat di Indonesia merasa tidak nyaman jika hidup berdampingan dan bertetangga dengan yang berbeda, baik itu beda agama juga beda orientasi seksual. Sebanyak 15,1 persen responden mengaku tidak nyaman hidup berdampingan dengan tetangga berbeda agama. Angka intoleransi terhadap aliran yang dianggap “sesat” lebih tinggi lagi. Sebanyak 41,8 persen mengaku tak nyaman bertetangga dengan warga Syiah. Sedangkan 46,6 persen mengatakan tak nyaman dengan Ahmadiyah. Tapi angka intoleransi terbesar adalah terhadap komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender)

Angka-angka di atas mencemaskan. Intoleransi dan kekerasan tidak diarahkan kepada pengikut Mirza Ghulam Ahmad saja. Mereka tidak lagi peduli komunitas ini memiliki dua aliran, yakni Lahore dan Qadiyani.  Kini, intoleransi itu juga ditodongkan kepada komunitas Syiah. Padahal Syiah pun tidak tunggal. Ada banyak sekte dan aliran. Inti kegetiran intelektual penulis, warga dan umat Islam semakin susah diajak bijak dan arif jika berhadapan dengan perbedaan dan semakin jauh dari sikap dan aksi hidup harmonis, toleran dan damai dalam kebhinnekaan.

SIAPA AKTOR INTOLERANSI?

Beberapa waktu lalu, menanggapi hasil riset LSI di atas, TVOne menghadirkan Kiai Ali Musthafa Ya’kub, Imam Besar Masjid Istiqlal. Saya ingin mengutip frase pernyataannya: “Intoleransi dan kekerasan atas nama agama terjadi karena Pemerintah tidak tegas menindak minoritas menodai agama yang dianut mayoritas. Pemerintah harus menindak aliran-aliran sesat agar masyarakat tidak main hakim sendiri.”

Serius. Penyataan Kiai Ali adalah cermin cara berpikir dan sikap arogansi masyarakat Indonesia pada umumnya. itu bukan sikap bijak dan arif dalam berhadapan dengan masyrakat yang cendrung emosional, mudah dibakar oleh sentimen keagamaan. Saya yakin, sebagai alim, imam besar dan duduk di Komisi Fatwa MUI Pusat, pernyataan beliau berimplikasi kepada pemahaman dan sikap umat Islam. Umat, umumnya awam, tidak belajar ushul fikih dan sejarah teologi Islam. Yang belajar saja masih sinis berhadapan dengan mereka yang memilih jadi Mu’tazilah, Khawarij, Murjiah, Syiah, dan umumnya merasa paling (klaim) ahl al- Sunnah wa al-Jamaah. Bagi saya, pernyataan di atas ibarat api disiram bensin. Semakin membara aksi-aksi kekerasan bertameng paling islami, merasa paling berhak masuk surga dan yang lain sesat dan menyesatkan. Ya, serius. Kiai telah jadi provokator meningkatnya aksi intoleransi dan kekerasan itu. Masyarakat awam akan menikmati dan merasa memperoleh legitimasi untuk main hakim dan menggebuk siapa pun yang dianggap sesat.

Kiai Ali nampaknya lupa. Bangsa Indonesia ini tidak dirancang spesial untuk umat Islam. Kita ditakdirkan sebagai bangsa Bhinneka Tunggal Ika. Ini anugerah agung Tuhan. Berhasrat bangsa ini di bawah genggaman mayoritas muslim sama saja dengan melawan takdir. Warga Indonesia, seorang ateis sekalipun, tetap punya hak hidup, berhak mendapat keadilan hukum, harus dilindungi rasa tentram dan damainya oleh Negara. Konstitusi itu batu fundamen keberlangsungan Indonesia. Sangat arif bila Kiai Ali tidak ikut menggerogoti dan menggali kubur bagi Negara ini.

Jangan nilai manusia dari sekedar aspek teologi dan ibadah semata. Nilailah dari akhlak luhur dan karya keseharian. Banyak kok kaum beragama yang korup dan melakukan kejahatan. Pelaku korupsi yang ditangkap KPK kebanyakan barisan mayoritas. Banyak kaum non-muslim, sekalipun ia musyrik dalam pandangan muslim, atau sekalipun ateis, yang baik akhlak dan karya akal budinya kita gunakan.Manusia di manapun sama.Punya hati nurani dan Tuhan Mahaadil.[] Oleh Mohammad Monib

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post