alt

Sayangi Madura

October 9, 2012lbhu

altPembersihan etnik penganut Syiah di Sampang, kawatir diambil kesempatan pihak lain untuk mengadu domba dan etnic cleansing suku Madura di Indonesia.

Seorang kawan asal Sumenep mengantar tamunya asal Perancis. Tepat memasuki daerah Sampang mobil yang ditumpanginya ditabrak angkutan kota. Tentu saja sang Perancis tak senang hati, apalagi sang sopir angkot bukannya minta maaf malah ngotot minta ganti rugi. Malah mengancam akan membunuh.

Terjadilah jawab jinawab antara penerjemah dengan sopir. “Apa yang  dia katakan?” kata turis Perancis itu.
“Dia akan membunuhmu jika melaporkan ke polisi,” jawab pengantar.
“Lalu, apa yang anda katakan lagi?” kata sang turis
“Saya bilang kalau bunuh turis itu, bunuh saja!” jawabnya.
“Hah?!”si turis terperangah.
“Iyalah, kalau saya atau sopir yang dibunuh sopir tak akan berbuat apa-apa, tapi kalau orang asing yang dibunuh, polisi bakal menangkap si pembunuh itu,” katanya. Sopir angkot itu langsung diam.

Karena desakan sang turis, mereka akhirnya ke kantor polisi juga. Di kantor polisi bukan mendapat perlindungan, polisi malah menjawab,”kalau saya tindak sopir angkot itu, kantor kami bisa dibakar.” Dia menyebut suatu peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya.

***

Peristiwa di atas hanya sebuah contoh gawatnya penegakan hukum di Madura. Seolah-olah ada suatu suku yang tidak dapat disentuh (untouchable). Tragedi pembunuhan, pembakaran dan pengusiran warga dua desa di dua kecamatan di Sampang 26 Agustus lalu tentu membuat miris. Apalagi dengan pernyataan pejabat di daerah setempat yang tak mampu melindungi warga meminta penganut syiah ke luar dari Sampang (Madura). Ditambah diperkuat peraturan-peraturan yang memojokkan dan memberi kesempatan adanya diskriminasi dan pembersihan etnik. Ini seperti sebuah kejahatan struktural di daerah Sampang dan Jawa Timur, tanpa kesungguhan penyelesaian dari pemerintah pusat.

Pembersihan etnis bukan persoalan kecil, pemimpin suatu negara bisa diseret pengadilan hak asasi manusia dunia. Menurut kamus, ethnic cleansing berarti adanya massa pengusiran dan pembunuhan satu suku/etnik atau agama oleh kelompok dari satu daerah/negara, oleh  kelompok etnis atau agama lain, baik didukung kekuatan pemerintah/negara atau negara membiarkan terjadinya pembersihan etnik itu.

Orang-orang Madura pernah merasakan pembantaian yang mengarah ke pembersihan etnis di Sampit, Kalimantan Tengah beberapa tahun lalu.  Ethnic cleansing pernah dilakukan sub etnik Dayak terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Bengkayang, Landak, dan Sanggau. Insiden ini terjadi berlangsung sekitar dua bulan, dari Januari hingga Februari 1997.  Usai rezim Orde Baru berakhir, terjadi lagi kali ini satu sub-etnik Melayu melakukan ethnic cleansing terhadap sekelompok Madura yang tinggal di Sambas pada Februari hingga Maret 1999, saat Orde Reformasi baru mulai berdiri.

Jadi sungguh mengherankan jika sekelompok orang menamakan umat Islam Sunni di Sampang, Madura mengusir, membunuh dan membakari rumah sekelompok umat Islam lain di Sampang, Madura, yang dituduhnya penganut Syiah. Padahal masyarakat Madura dikenal sebagai pekerja yang ulet, rajin, ramah dan tingkat keberagaman yang tinggi. Semiskin-miskinnya orang Madura, masjid ada di tiap kampung dan bagus, serta tingkat keinginan pergi haji ke Mekkah yang tinggi.

Belakangan menurut Taufiqurraman dalam Islam dan Budaya Madura terjadi perilaku menyimpang (diviasi) dari ajaran yang dianutnya, seperti, antara lain: sebagian pedagang Madura berjualan tidak sesuai dengan spesifikasi yang diucapkan (dijanjikan), tindakan premanisme, penghormatan berlebihan atau kultus individual pada figur kiai, ketersinggungan yang sering berujung atau dipahami sebagai penistaan harga diri, perbuatan heretikal, temperamental, reaktif, keras kepala, dan penyelesaian konflik melalui tindak kekerasan fisik (biasa disebut carok).

Nah, sifat di kampungnya ini kemudian terbawa saat berada di negeri rantau. Sehingga keberadaan orang Madura pada suatu daerah membawa konflik. Terutama pada pengambilan lahan milik orang lain. Semula datang baik-baik (sopan), diberi tempat sementara, menguasai tanpa hak dan sulit disuruh keluar dari tempat itu. Sehingga pemilik lahan seringkali mengunakan pihak lain untuk mengusir Madura. Dalam beberapa kasus orang Madura takut kepada Marinir dibandingkan polisi.

Di Cakung, Jakarta, orang Madura seringkali bentrok dengan kelompok organisasi massa Islam etnis setempat. Tentu saja bisa karena perebutan lapak (tempat usaha) dan perbuatan licik yang disebutkan di atas. Juga di daera-daerah lain dimana ada komunitas Madura.

Masalah-masalah di atas, berkaitan dengan pengusiran secara struktural (dibantu dengan pimpinan pemerintah daerah) suatu etnik atau penganut Islam Syiah di Sampang, dikawatirkan membawa masalah lain, menyuburkan dan menyebarkan pertentangan antar Ras, Agama, Suku dan Antargolongan. Bukan tidak mungkin Madura ada menjadi pemantik bagi meluasnya pertentangan seperti itu di seluruh Indonesia, dimana  ada orang Madura berkumpul mencari penghidupan.

Akan ada alasan sekelompok suku (pribumi) untuk mengusir suku lain (Madura) bila ada masalah pribadi atau kelompok. Bahkan bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok politik yang akan mengambil keuntungan dari konflik tersebut jika terjadi.

Sudah saatnya tokoh-tokoh asal Madura yang menjadi orang penting di Indonesia untuk bisa ikut menjadikan orang-orang Madura sebagai “penyejuk” di negeri ini. Bukan sebagai “bahan bakar” di negeri yang sedang karut marut seperti sekarang ini. Kawatirnya, akan masuk pihak asing yang akan mengambil keuntungan dari konflik seperti ini. Nauzubillah!

Sampang, 3 September 2012

Ahmad Taufik, mahasiswa program magister FISIP Universitas Padjadjaran, Bandung

{fcomment}

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post