Sampang dan 5 Tahun Pengungsian

December 28, 2016Admin

Sudah 5 tahun saya bersama pengungsi Sampang yang terusir dari kampungnya untuk saling menguatkan. Pertemuan tadi pagi bersama mereka, membuat dada saya sesak dan berat untuk sekadar berbicara di hadapan wajah-wajah yang berkumpul penuh harap.

“Saya mau ngomong apa lagi untuk menghibur mereka. Haruskah saya menuding langit mengutuk kezaliman ini kepada penguasa dan negara?”

Tapi lidah dan perasaan saya segera tertib dan luluh dari kemarahan, saat mendengar warga pengungsi bercerita dengan antusias bahwa kalau mereka pulang kampung diam-diam karena urusan keluarga, mereka tahu di kampung sebenarnya sudah sangat kondusif.

Mereka diterima warga kampung dengan baik saat tinggal di kampung. Ada yang tinggal 1-2 hari hingga 2 pekan lamanya. Saat mau kembali pulang ke pengungsian, warga memberi jagung, beras, bahkan ayam hidup sebagai oleh-oleh. Islah yang kami bangun bersama sudah terjadi. Manis buahnya sebenarnya sudah bisa kita rasakan tapi buah diperam begitu lama oleh pemerintah yang tidak serius melihat modal sosial ini. Dan seperti ingin buah islah ini membusuk. Semoga saja tidak.

Warga di dua kampung lokasi konflik sudah sangat menyambut pengungsi dan paham bahwa mereka adalah korban dari konflik lalu. Pengungsi bahkan dilindungi oleh warga saat di kampung agar tidak terlihat aparat yang selalu menciduk warga pengungsi kembali ke pengungsian dengan alasan yang makin klise bahwa kondisi tidak aman.

Semakin jelas siapa sebenarnya yang mengelola konflik dan tidak serius menyelesaikan masalah. Rakyat justru sebenarnya lebih cerdas, berhati dan manusiawi. Masalah Sampang ini sebenarnya mudah sekali diselesaikan kalau negara dan pejabatnya yang kita pilih dari kotak suara mau melaksanakan tugasnya dengan benar. Tapi Presiden dan jajarannya rupanya masih sibuk membangun infrastruktur dan belum ada waktu membangun modal sosial dan manusia.

Keadaan yang paling membuat saya selalu punya energi saat bertemu pengungsi adalah menyerap keteguhan dan kesabaran mereka. Mata saya berair saat mendengar pengungsi bercerita pulang kampung demi menengok anak, menengok keluarga, menengok kakak dan adik, bahkan ada yang baru pulang dari Malaysia, menengok kampung namun tetap ingin kembali hidup bersama pengungsi di pengungsian padahal tak ada yang menghalangi mereka untuk mengambil jalan masing-masing.

Mereka tetap kuat dalam barisan untuk menagih janji pemerintah memulangkan mereka karena mereka punya tanah, mereka bukan orang susah, mereka punya ladang dan nafkah serta leluhur yang tak bisa dirampas siapapun. Mereka kuat tapi begitu tenang, sabar dan terkendali. Tak ada emosi yang meluap-luap dan kemarahan yang hendak dipertontonkan. Padahal saya rela jika mereka memaki saya karena belum berhasil membantu mereka pulang kampung.

Siapa yang bisa membuat orang-orang udik ini punya etika, martabat dan ikatan solidaritas yang sangat kuat sehingga membuat saya pecah dalam haru dan merasa bukan siapa-siapa di mata Rasul yang mereka cintai dan ahlulbait Nabi yang mereka yakini.

 

Hertasning Ichlas ; Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post