Pertanian Rakyat Bukan Korporasi

January 10, 2017Admin

Vandana Shiva, salah satu juru bicara anti globalisasi dalam forum sosial dunia sekaligus aktivis lingkungan dan petani menawarkan meresonasi jalan baru dengan memperkuat ekonomi lokal, memberdayakan komunitas, mempromosikan keragaman pangan dan hayati.

Semua bermula dengan mengubah cara pandang tentang pembangunan agar lebih berbasis kebutuhan lokal, berjaringan dan bermitra, tidak terobsesi pertanian skala raksasa yang pada akhirnya tidak lestari dengan mengembangkan konsep family farming bukan corporate farming.

Saat ini negara dan pasar terus menyebarkan ilusi kelangkaan pangan, untuk membenarkan praktik pertanian monokultur berskala industri yang menghilangkan keanekaragaman pangan dan benih lokal. Jelas sekali ini menunjukkan ketahanan pangan bukan hanya soal pertanian, melainkan juga politik.

Ketika korporasi dan pemerintah menawarkan ketergantungan benih, perlu terus – menerus ada koreksi dan suara lantang menolak yang disebut World Social Forum sebagai gejala monokulturalisasi dan Macdonald-isasi sistem hidup.

Benih, tanah, air dan sumber daya alam semakin disadari telah dimonopoli segelintir perusahaan. Padahal air, benih, tanah dan sumber daya alam adalah milik warga dan komunitas, bukan milik negara jika kemudian diserahkan kepada korporasi.

Sekarang kita lihat kualitas ketahanan pangan Indonesia. Rata -rata impor beras tahun 2010 – 2013 dibandingkan tahun 2004 meningkat 482,6 persen. Daging sapi 349,6 persen, cabai 141 persen, gula 114,6 persen dan gandum 45,2 persen. Sedangkan pertumbuhan penduduk selama periode tersebut sekitar 12,0 persen.

Jelas sekali negara harus melakukan tugasnya membela hak petani atas benih, pangan, tanah dan hutan yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu agar tercipta keadilan ekonomi dan keadilan sosial.

Kedaulatan pangan bukan dicirikan dengan produksi massal dan keseragaman untuk melayani bisnis perusahaan raksasa, melainkan ketika keragaman pangan dan keragaman budaya lokal dipertahankan oleh negara.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post