Pak AT dan YLBHU (Catatan Pembuka)

March 25, 2017Admin

Catatan Pembuka

Saya baru punya beberapa paragraf untuk mengisi kembali memori saya tentang Pak AT, begitu saya menyapa dirinya.
Saya tahu pasti ada begitu banyak kenangan hebat tentang almarhum AT yang bisa saya tuliskan. Tentu dengan risiko mengembalikan memori tentang dia berarti pula menebalkan rasa kehilangan yang tak mudah saya hadapi saat ini. Tapi yang ada tentang dirinya di laci memori inilah yang ingin segera saya tuliskan.
Jadi, di kantor LBH-Universalia yang kami sama-sama besarkan dan dedikasikan untuk pembangunan sosial dan kemanusiaan sejak 5 tahun lalu, Pak AT, setahun ini, kerap mengatakan bahwa dia sangat betah di kantor ini sehingga dia merasa malas untuk ke mana-mana lagi jika sudah duduk di kursinya.
Dia bisa menulis sambil bersenda gurau memakan tahu kopong kesukaannya yang dibelinya dari penjual langganannya tak jauh dari kantor.
Kantor LBH-Universalia belakangan menjadi pusat gravitasinya untuk beraktivitas di Jakarta. Sebelum ke mana-mana atau setelah ke mana-mana almarhum biasanya akan memarkir dirinya di kantor yang biasa kami sebut YLBHU. Ruangan petak tak seberapa luas di lantai 3, yang dipinjamkan kepada kami dengan kebaikan hati, bisa terasa membuat jantung dan paru-paru seperti diremas ngos-ngosan untuk bisa sampai di lantai kantor kami.
Jika ingatan saya bisa diandalkan, terakhir saya bertemu almarhum di kantor YLBHU, dia muncul dari tangga dan mengatakan dengan raut muka letih bahwa mulai berat nafas terasa untuk naik ke atas meski suaranya tak terdengar mengkhawatirkan. Saya tak terlalu berpikir macam-macam soal paru-paru Pak AT saat itu, organ yang kemudian menjadi sumber penyakitnya. Saya sedikit menertawakannya karena saya lebih dulu merasa sering ngos-ngosan saat naik tangga ke lantai 3.
Kami tak punya meja dan kursi sendiri. Kami terbiasa melingkar di ruangan meja rapat yang juga meja untuk segalanya. Almarhum banyak menulis. Kadang dia mengundang tamunya untuk mampir di meja yang sama.
Di ujung tangga atas sebelum masuk lorong ruangan kantor, saya bisa segera menjumpai sepatu boot Pak AT. Terutama di siang hari. Hati saya langsung sumringah mengetahui almarhum sudah ada lebih dulu di dalam ruangan.
Setelah mendengar atau melihat saya masuk, hal paling sering yang almarhum lakukan adalah menyeru “Haaaa Pak Hertaaa dataaaang,” seraya mengangkat tangannya ke atas sedikit menggoyang.
Kepada rekan lainnya di meja, Pak AT kemudian seperti menjadi rutin mengatakan, “nah benar kan Pak Herta datang jam segini.”
Begitu hangat tanpa klise meski dikatakan berulang-ulang dan terutama sangat intens setahun belakangan ini. Tak peduli dia sedang sibuk mengetik, dia selalu melakukan hal itu untuk menyambut saya dan teman-teman YLBHU lainnya.
Kini saya tahu bahwa itulah cara Pak AT membuat saya penting dan menjadikan kantor bersahaja kami seperti punya jiwa kepedulian dan kehangatan keluarga. Pak AT pandai membuat hal penting terlihat biasa-biasa saja.
Tapi itulah justru masalahnya. Kini yang sulit dihadapi, dia begitu terasa sangat penting ketika dia sudah pergi. Kesederhanaan, ketulusan, kerendahatiannya dan kemampuannya untuk menyederhanakan masalah,membuat Sayyid Ahmad Taufik alias AT hanya ketahuan BESAR setelah dia pergi. Banyak energi, kelakar, kebaikan dan kepeduliannya yang begitu sehari-sehari dan begitu pasti kehadirannya, sehingga seolah kita atau saya akan merasa akan mengalaminya dan merasakannya terus-menerus taken for granted. Padahal ternyata tidak.
Pak AT pergi. Dia yang kami anggap cukup menjaga badan dan kesehatan, kemudian jatuh sakit dan pergi cukup cepat karena cara dia memperlakukan penyakit (yang sebenarnya berat dan lama) begitu penuh canda. Mungkin itulah cara almarhum untuk tak bisa dikalahkan oleh sakitnya.
Pak AT, saya tahu kematian itu begitu dekat dan nyata tapi yang belum saya persiapkan adalah menghadapi perasaan kehilangan dari orang yang sangat sangat nyata kehadirannya dan kebaikannya. * (bersambung)

 

Hertasning Ichlas

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post