Miris! LPSK Tunduk pada Tekanan

October 4, 2012lbhu

altMiris. Cemas. Geram. Itulah yang kami rasakan ketika pada 4 Oktober 2012, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengembalikan Bapak Omar alias Pak Tohir—korban sekaligus saksi kunci tragedi berdarah penyerangan terhadap warga Syiah di Kecamatan Omben, Sampang, Jawa Timur, 26 Agustus 2012—ke tempat pengungsian di GOR Sampang. Padahal, sebelumnya, rapat pleno LPSK sudah memutuskan untuk menyertakan Bapak Omar alias Pak Tohir ke dalam Program Perlindungan Darurat selama minimal 3 bulan sesuai dengan permohonan Kantor Lembaga Bantuan Hukum Universalia selaku penasehat hukum korban.

LPSK beralasan pengembalian itu karena Bapak Omar alias Pak Tohir tidak merasa betah dan kerasan berada di dalam “Rumah Aman.” Aneh. LPSK seharusnya membuat korban dan saksi yang dilindungi merasa betah dan kerasan. Bukan sebaliknya. Menjadikan alasan tak betah sebagai dalih untuk mengeluarkan korban dan saksi—yang rentan terhadap tindakan ancaman dan intimidasi—dari program perlindungan. Dari sisi ini, kami berpandangan LPSK justru telah membangkang terhadap UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Tak bisa dipungkiri. Keberadaan Bapak Omar alias Pak Tohir dalam program perlindungan LPSK mengusik kenyamanan beberapa pihak yang terlibat dalam aksi penyerangan berdarah itu. Bapak Omar menjadi saksi kunci bagi keterlibatan seorang pelaku utama yang dapat menyeret otak di balik serangan tersebut. Kami mencatat beberapa kali keluarga korban didatangi pihak-pihak yang menanyakan keberadaan Bapak Omar. Dari penuturan petugas LPSK, kami juga tahu pihak-pihak itu menghubungi LPSK dan menanyakan keberadaan Bapak Omar.

Kami cemas ketika melihat LPSK, sebuah lembaga negara independen yang dibentuk oleh undang-undang, ternyata tak berdaya menghadapi tekanan pihak-pihak tertentu. Keputusan LPSK mengeluarkan Bapak Omar dari program perlindungan bisa menjadi preseden buruk matinya harapan saksi dan korban yang ingin mengungkap kebenaran demi tegaknya keadilan.

Oleh karena itu, kami menyesalkan tindakan LPSK itu dan menuntut LPSK untuk segera mengembalikan Bapak Omar alias Pak Tohir ke dalam program perlindungan dan membuat yang bersangkutan nyaman dan betah di Rumah Aman.

Jakarta, 4 Oktober 2012

Kantor LBH Universalia
Direktur Eksekutif

Hertasning Ichlas

*Contact person:
Agus Setiawan, SH +628 1359 465 923

 

Lampiran Siaran Pers: Surat Resmi Kantor LBH Universalia kepada LPSK

NO    :  0012/SRTLPSK-UNI/X2012
Hal    : Surat Permohonan dan Protes.
Lamp    : —
Kepada Yang Terhormat:
Ketua LPSK, UP Ibu Lili, Bpk. Basuki, Bpk. Arif, Bpk. Teguh dan Ibu Susi

Salam.
Bersama surat ini perkenankan kami para Penasehat Hukum dari Lembaga Bantuan Hukum Universalia yang telah memohon Perlindungan Darurat untuk Bapak Omar alias Pak Tohir kepada LPSK menyampaikan kronologi sebagai berikut:
1.    Pada 26 September 2012 kami mengajukan permohonan perlindungan darurat untuk Bapak Omar alias Pak Tohir.

2.    Pada tanggal 29 September 2012, sekitar pkl. 14.00 siang petugas LPSK di bawah pimpinan Ibu Lili datang ke GOR Sampang dan kembali pada sore harinya. Menurut kabar yang disampaikan Bpk. Arif petugas LPSK yang datang ke GOR, Tim LPSK urung menjemput Pak Omar alias Pak Tohir karena situasi di GOR Sampang tidak kondusif.

3.    Pada tanggal 30 September 2012, sekitar pkl. 8.30, melalui Bpk. Arif dari tim LPSK, memberi tahu pihak Penasehat Hukum agar mengantar Pak Tohir diantar ke Surabaya untuk cek kesehatan di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. Namun pihak Penasehat Hukum menolak mengantarkan Pak Tohir.

4.    Pada pkl 09.00 tanggal 30 September Ibu Lili LPSK menyampaikan melalui telepon kepada Penasehat Hukum akan menjemput Pak Tohir ke GOR Sampang untuk selanjutnya dicek kesehatannya di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.

5.    Pada pkl. 16.00 tgl 29 September 2012, Bpk. Arif LPSK datang menjemput Pak Tohir di GOR Sampang. Team LPSK di bawah Koordinasi Bpk. Arif telah membawa Omar alias Pak Tohir dari GOR Sampang didampingi oleh putrinya Sofi dan adiknya Abdul Jalil. Omar alias Pak Tohir juga telah memberikan persetujuan untuk berada dalam Program Perlindungan Darurat LPSK.

6.     Pada pukul 20.00 tanggal 30 September 2012 Kapolres Sampang menelpon Sekjen Ahlulbayt Indonesia dan menyatakan keberatan atas keluarnya Pak Tohir dari GOR Sampang.

7.    Pada tanggal 1 Oktober sekitar pkl. 11.00 siang, Bu Tohir ditanya-tanya oleh petugas intel Polres sampang tentang keberadaan Pak Tohir.
8.    Pada 2 Oktober 2012, Kanit Intel Polres Sampang Nurahmad mendatangi Penasehat Hukum Pak Tohir ke GOR Sampang dan bertanya tentang keberadaan Pak Tohir.

9.    Sejak Pak Tohir dijemput oleh LPSK sampai tanggal 3 Oktober 2012 beberapa orang yang mengatasnamakan anggota Polres  Sampang terus mencecar keluarga Pak Tohir dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.

10.    Pada tanggal 3 Oktober 2012, sekitar jam 16.00 Petugas dari LPSK Ibu Susi dkk. mendatangi GOR Sampang dan menemui Penasehat Hukum Pak Tohir di GOR menyampaikan bahwa LPSK akan mengembalikan Pak Tohir dan keluarga yang menyertainya ke GOR sampang dengan alasan bahwa Pihak Kepolisian Resort Sampang dan Pemerintah Kabupaten Sampang berkeberatan jika Pak Tohir berada di luar Sampang.

11.    Namun pihak Penasehat Hukum Pak Tohir menolak jika Pak Tohir dikembalikan ke Sampang.

12.    Pada tanggal 4 Oktober 2012 pukul 10.00 Penasehat Hukum Pak Tohir menyampaikan melalui telepon kepada Ibu Lili dan Ibu Susi petugas LPSK, bahwa pengembalian Pak Tohir ke GOR Sampang berdampak buruk bagi keamanan Pak Tohir dan psikologi buruk bagi seluruh korban “tragedi berdarah” Sampang yang hingga detik ini masih mengungsi di GOR Sampang.

Bahwa, LPSK telah melakukan pleno dan memutuskan untuk memberikan perlindungan darurat selama 2 minggu kepada Omar alias Pak Tohir (pemohon) sehingga pada hari Sabtu tanggal 29 September 2012, team LPSK dipimpin Ibu Lili meluncur dari Jakarta ke Sampang untuk mengeksekusi program perlindungan darurat tersebut.

Bahwa informasi yang disampaikan pada 3 Okober kepada Penasehat Hukum Pak Tohir, Ibu Lili LPSK telah mengkaji permasalahan ini dan telah melakukan sidang pleno dengan keputusan Pak Tohir diberi perlindungan saksi korban dengan jangka waktu minimal 3 bulan. Bahwa pada 4 oktober 2012 melalui telpon kami mendapatkan keterangan dari Ibu Susi bahwa Omar alias Pak Tohir akan segera dipulangkan ke GOR dengan alasan yang sangat personal yang intinya yaitu: Omar alias Pak Tohir yang sudah menjalani program perlindungan saksi dari LPSK merasa tidak betah dalam Rumah Aman (Save House) dan meminta untuk kembali ke GOR. Tentu hal ini tidak bisa menjadi alasan LPSK mengembalikan Pak Tohir ke GOR Sampang.

Berdasarkan kronologi tersebut di atas maka kami para Penasehat Hukum dari LBH UNIVERSALIA menyatakan keberatan dan meminta kepada LPSK agar tetap melindungi Pak Tohir di Rumah Aman (Save House), bukan di GOR Sampang mengingat Pak Tohir adalah saksi kunci dalam perkara Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Nyawa Badan pada “Tragedi berdarah Sampang 26 Agustus 2012” yang masih belum disidangkan.
Demikian surat keberatan ini kami sampaikan. Atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

 

Sampang,  4 Oktober 2012
Hormat Kami,
 

 

Ahmad Taufik, S.H                  Anwar Mohammad Aris, S.H.               Agus Setiawan, S.H.
 

 

{fcomment}

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post