Mengapa Sulit Lupakan Sayid Ahmad Taufik Al-Jufri

March 31, 2017Admin

Sosok Ahmad Taufik Jufry hanya hadir beberapa tahun saja dalam hidupku. Tepatnya sejak aku bergabung bersama kafilah YLBH Universalia. Peristiwa Sampang 2011 mempertemukanku dengan Bang ATe.

Pertemuan pertama dengan seorang Sayid ini terjadi di kantor pertama YLBHU di bilangan Pasar Minggu. Beliau memakai batik dan sepatu kulit bercongor lancipnya. Entah mengapa suasana langsung akrab bersamanya. Tak ada jarak terasa padahal usianya 16 tahun lebih senior dariku.

Yang kulihat hanyalah sosok sederhana lagi bersahaja. Kelakar-kelakarnya membuat kami semakin akrab. Hari demi hari persidangan Tajul Muluk membuat pertemuan semakin intens. Keterlibatanku semakin mendalam dengan beliau saat gugatan pasal 156a KUHP ke Mahkamah Konstitusi.

Sidang demi sidang terlaksana. Yang kuingat Ahmad Taufik, SH tidak pernah terlambat hadir dalam setiap sidang gugatan ini. Sepulangnya dari satu sidang beliau mengajak seluruh tim yang hadir ke warung makan Padang tidak jauh dari MK. Meski keadaan pas-pasan beliau malah yang mentraktir kami, tanpa mengharap bayaran sedikit pun dari sidang tersebut.

Jauh sebelum itu, saat para pegowes kemanusiaan Sampang datang ke Jakarta pada Juni 2013, almarhum pak ATe meminta kawan-kawan untuk mendesain kaos dan mencetaknya. Beliau punya uang 400-500 ribu saat itu. Semua diberikan untuk dibelikan kaos tersebut. Jika ada kelebihan beliau minta untuk dicetakkan spanduk.

Di tahun yang sama, saat hari Al-Quds tiba, beliau juga menyumbangkan uang pas-pasannya untuk mencetak spanduk besar dengan kutipan kata-kata Bung Karno tentang kemerdekaan Palestina.

Soal prinsip hidup, pak ATe tetap konsisten. Baginya, haram memakai celana jeans karena produsen di India mempekerjakan anak-anak di bawah umur dengan gaji rendah. Namun prinsipnya itu tidak membuatnya melarang atau mencaci orang lain yang memakainya.

Pak ATe suka sekali kopi, tapi tak pernah merokok. Namun dia tetap menghormati orang lain yang merokok di sampingnya. Mungkin ini juga yang mengakibatkan dirinya terserang kanker, dan saya merasa punya andil besar atas penyakitnya itu. 🙁

Yang paling sulit saya lupakan dari budi baik pak ATe adalah di saat beliau mendengar saya akan melamar seseorang pada Oktober 2013. Beliau tahu saya tak punya penghasilan cukup untuk menikah saat itu.

“Tim, katenye ente mau melamar perempuan?” tanya beliau pada saya seminggu sebelum lamaran. “Lho, pak ATe tahu dari siapa?” Maklum, saat itu beliau selalu bolak-balik Jakarta-Bandung untuk kuliah S2. Tapi kok bisa tahu.

“Pake tuh mobil gue,” ujar pak ATe mendesak. “Gak usah, Bib. Nah, nanti antum ke Bandung naik ape? Ane sih mau sewa mobil.”

“Ane sih gampang bisa naik travel,” jawab pak ATe, “Ente ingetin ane lagi sebelum hari H, ye.”

Jelang hari H, tanpa diingatkan, beliau langsung menyodorkan kunci mobil, STNK dan uang 1 juta. “Ini, untuk uang bensinnye ye!”

Pak ATe mengulangi hal yang sama saat pernikahan saya, Januari 2014. Dengan sempurna beliau membuat saya dan istri merasa berhutang besar. Ini bukan masalah materi yang beliau berikan kepada kami, tapi sebuah bentuk perhatian yang bernilai tinggi di hati kami. Sungguh kami sekeluarga belum bisa membalasmu Bang ATe. Kami sadar beliau bukanlah orang yang berkelebihan harta. Namun niat tulusnya hanyalah demi bekalnya menghadap datuknya, Rasulullah Saw.

Hal yang paling menyedihkan bagi saya, adalah hilangnya intensitas pertemuan dengan beliau karena peralihan posisi di lembaga berbeda pascamenikah. Tentu saja, sejak itu saya sudah merasa kehilangan beliau. Jauh di mata dekat di hati.

Soal ibadah kepada Tuhannya, pak ATe lebih khusyuk ketimbang saya. Saya hanya merekam kehadirannya di malam-malam ganjil Ramadhan tahun lalu yang membawa serta anaknya, Muhammad Khatami. Seolah memperkenalkan kepada kami penerusnya kelak.

Sejak beliau mempublikasi foto-fotonya pada perjalanan Karbala, ada firasat aneh yang menyetrum saya seolah almarhum memanggil-manggil saya dari kejauhan untuk hadir di Karbala. Sungguh itu perjalanan terakhir yang menyenangkan baginya!

Postingan-postingan akhir di laman FB-nya menyiratkan kerinduan pada akhirat dengan kutipan-kutipan tafsir Al-Qur’an. Dia juga mencemooh kejahatan dunia dan pecintanya. Semoga engkau damai di sana, Bang.

Entah bagaimana cara kami melupakanmu, Bang? Saya sungguh menemukan pribadi dengan segala macam kelebihannya. Bukankah menjadi Syiah Ali adalah orang yang terbaik dan terdepan di antara manusia? Engkau figur abadi yang akan selalu saya kenang dan sampaikan kepada anak-anakku, Bang. Semoga kami bisa menunaikan cita-citamu, Bang.

 

Mohamed Hatem

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post