Manusia Sebagai Makhluk Ekologis dalam Perspektif Anre Naess

April 17, 2017Admin

Dalam kata pengantar buku Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dua tahun lalu, menteri Siti Nurbaya mengakui bahwa upaya pemerintah pusat maupun daerah dalam upaya mengurangi laju kerusakan dan pencemaran kualitas lingkungan belum mampu mencapai suatu kondisi sebagaimana yang kita harapkan bersama.

Kita masih mengalami berbagai bencana lingkungan hidup seperti banjir, kekeringan, longsor, pencemaran dan kerusakan lingkungan lainnya.

Hal ini sekiranya telah menggambarkan sebuah kondisi bahkan sebuah situasi yang memang kita alami hari ini. Kerusakan lingkungan seperti krisis air bersih, pembabatan hutan sampai pada pembakaran ribuan hektar lahan sudah menjadi trending topik dalam pemberitaan media nasional bahkan turut mendapat perhatian dari dunia international.

Jika mencoba merunutkan segala sebab musabab dari terjadinya bencana ini, kita akan dihadapkan pada dua variable; pertama variable fenomena alam yang memberikan kontribusi 0,1% dan kedua variable manusia yang berkontribusi 99,9% menjadi subyek utama dalam menghadirkan berbagai krisis, kerusakan serta pencemaran yang sejatinya telah menindas alam serta seluruh entitas kehidupan didalamnya.

Dalam The Politics, Artistoteles menyatakan, “Tumbuhan disiapkan untuk kepentingan binatang dan binatang disediakan untuk kepentingan manusia.” Dengan demikian, maka kalimat ini telah mengisyaratkan bahwa ciptaan yang lebih rendah telah sengaja diciptakan untuk kepentingan ciptaan yang lebih tinggi.

Sejalan dengan Aristoteles, Thomas Aquainas, Rene Descartes dan Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya, karena manusia adalah satu-satunya makhluk bebas dan rasional (the free and rational being). Manusia adalah satu-satunya makhuk hidup yang mampu menggunakan dan memahami bahasa, khususnya bahasa symbol untuk berkomunikasi.

Dalam perkembangannya dikemudian hari, pandangan ini dijadikan dasaran filosofis terhadap salah satu paradigma lingkungan hidup yaitu paradigma antroposentrisme.

Antroposentrisme menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta yang akan mencapai nilai tertingginya pada pemenuhan kepentingannya. Antroposentrisme menganggap bahwa hanya manusialah yang memiliki nilai sementara alam dan lingkungan hanya diciptakan sebagai pemenuh hasrat kepentingan mausia.

Hal inilah yang kemudian berlanjut pada terciptanya pola hubungan antara manusia dengan alam yang tampak bersifat instrumentalistik dan egoistis serta menumbuhkembangkan superioritas manusia terhadap alam. Sifat yang demikian kemudian tercermin dalam relasi yang dibangun manusia dengan  alam yang cenderung mempertontonkan eksploitasi serta pengurasan terhadap alam demi kepentingan manusia.

Pembukaan areal perkebunan, pertambangan ataupun pembersihan lahan melalui pembabatan hutan dan pembakaran lahan merupakan aktivitas manusia yang telah menegasi pola hubungan bersifat mutual dengan alam dan sebaliknya telah memposisikan diri sebagai, penulis menyebutnya preman ekologi.

Dihadapkan pada situasi demikian, penulis berasumsi bahwa kita membutuhkan sebuah perubahan fundamental nan radikal terkait cara pandang yang kita gunakan dalam membangun relasi dengan alam. Perubahan ini menuntut perombakan terhadap sikap dan tindakan manusia dalam memperlakukakan alam yang tidak sebagaimana adanya namun cenderung sebagaimana seharusnya.

Seorang filsuf Norwegia (1973), Arne Naess memperkenalkan sebuah konsep etika lingkungan yang dikenal dengan istilah deep ecology, yang kemudian mengalami perkembangan dan menjadi tonggak lahirnya pandangan baru yang dinamakan ekosentrisme. Naess (sebagaimana dikutip oleh  Sonny dalam Etika Lingkungan, 2006) memperkenalkan sebuah cara padang baru dalam menyikapi persoalan lingkungkungan yang terjadi zaman ini.

Deep Ecology Naess menuntut sebuah revolusi cara berpikir manusia dalam memperlakukan alam; segala bentuk nilai, kepentingan maupun moral tidak lagi terpusat pada manusia. Dalam hal ini Naess mengecam superioritas manusia yang meposisikan diri sebagai pusat segalanya dan tercipta untuk mengeksploitasi ciptaan lain.

Deep Ecologi atau pandangan ekosentrisme sebagaimana yang diusung Naess, memandang berbagai kepentingan, nilai serta etika diberlakukan bagi seluruh komponen lingkungan, seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak. Secara ekologis, makhluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terikat satu sama lain. Karena itu kewajiban dan tanggung jawab moral tidak hanya dibatasi pada makhluk hidup tapi pula pada lingkungan tidak hidup.

Naess menekankan perlunya perubahan gaya hidup khususnya dalam relasi yang dibangun dengan alam yang telah melahirkan krisis ekologi seperti sekarang ini sebagai akibat dari pola produksi dan konsumsi yang sangat eksesif, tidak ekologis, dan cenderung konsumeristis.

Ekosentrisme menghadirkan refleksi kritis bagi manusia. Manusia sebagaimana entitas lain yang ada di alam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagai bagian dari eksistensi ekologis.

Alam dalam pandangan ekosentrisme tidak bisa direduksi sebatas pada instrument semata, namun lebih dari itu alam merupakan wadah bagi keberadaan manusia dan penyedia kehidupan bagi manusia (provider of human needs).

Deep ecology sebagai pijakan ekosentrisme mengajak manusia untuk memposisiskan diri tidak pada ruang sempit yang mendefinisikannya sebatas sebagai makhluk sosial semata.

Pandangan ekosentrisme menggugat kesadaran manusia melalui tinjauan reflektif untuk menemukan diri yang juga merupakan bagian dari makhluk ekologis. Artinya bahwa persoalan kehidupan tidak direduksi sebatas pada pemenuhan serta pencapaian kebutuhan ataupun kepentingan manusia, namun juga merupakan sebuah persoalan yang lebih komprehensif terkait balance antara pemenuhan kebutuhan manusia juga kebutuhan alam.

Dengan menempatkan dirinya sebagai bagian dari makhkuk ekologis, maka sejatinya manusia ditantang untuk berjuang agar keberadaannya tidak sebatas parasit ekologi, begitulah penulis menyebutnya.

Parasit ekologi yang dimaksudkan di sini adalah tiap cara pandang serta pola perilaku yang mereduksi eksistensi alam yang sebatas pada instrumen bagi kepentingan manusia yang berakar pada ketidaksadaran manusia sebagai bagian yang turut ditentutakan keberadaannya oleh dinamika alam.

Menempatkan manusia tidak semata sebagai makhluk social tetapi juga merupakan makhluk ekologi pada hakikatnya merupakan sebuah usaha untuk merekonstruksi cara pandang antroposentrisme terhadap alam yang terbukti telah menjadi obyek dari keganasan ciptaan bernama manusia.

Menempatkan manusia sebagai makhluk ekologi dalam spectrum yang lebih komprehensif juga merupakan perjuangan gagasan yang sejatinya menjadi antithesis terhadap sikap totaliter, keserakahan, dan merontokkan dominasi superioritas serta ingin membendung krisis tanggungjawab manusia terhadap alam. Alam yang memberikan system kehidupan tidak sepatutnya mendapat sikap unrespect dari manusia yang telah diberikan penghidupan olehnya.

Susilo (2008) sebagaimana dikutip oleh Mohamad Sidiq dalam Perspektif Ekosentrisme Dan Skenario Ecosystem Based Forest Management; menyatakan ekosentrisme sebagai paham yang memperjuangkan keseimbangan secara holistic dalam keseluruhan konteks global manusia, alam dengan kehidupan dan budaya yang beragam.

Keseimbangan holistik dalam hal pengelolaan alam ini mengandung arti kelestarian fungsi ekosistem alam secara utuh dan menyeluruh, mulai dari kelestarian kawasan ekosistem, kelestarian kualitas dan produktifitas serta kelestarian fungsi ekonomis – ekologis – serta social ekosistemnya.

Sebagai ciptaan yang behutang kehidupan pada alam, revolusi cara pandang dalam relasi ekologis sudah merupakan agenda yang urgen untuk segera digerakkan oleh manusia dizaman ini. Alam bukan lagi terbatas pada pemahaman tentang instrument pemenuhan kepentingan manusia semata tetapi lebih jauh merupakan wadah serta penyedia kehidupan yang di dalamnya juga memiliki nilainya tersendiri.

Manusia pun didefinisikan bukan semata-mata sebagai makhluk sosial, tetapi pada konteks relasi yang lebih kompleks manusia harus dipahami pula sebagai makhluk ekologis yang memiliki segudang tuntutan tanggugjawab dan moral terhadap alam yang di dalamnya terdapat nilai yang tidak bisa direduksi dengan asumsi apapun.

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/manusia-sebagai-makhluk-ekologis-dalam-perspektif-anre-naess

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post