Kronologi Persekusi Syiah Sampang

October 1, 2012lbhu

Sehubungan dengan perkembangan kasus kekerasan atas nama agama di Sampang, tim LBH Universalia telah mendapatkan kronologi lengkap versi saksi-saksi dari pihak korban kekerasan di Sampang.

 

Berikut kronologi persekusi Syiah di Sampang:

Awal 1980-an:

Ajaran Syiah masuk Sampang melalui Kiai Makmun, ayah Tajul Muluk, Iklil Al-Milal, dan Rois Al-Hukama.

Tahun 2004:

  • Sekembalinya dari Arab Saudi, Ustad Tajul Muluk mendirikan pesantren Misbahul Huda di kampungnya. Keterangan: Gaya dakwah yang menarik sekaligus pribadi Ustad Tajul yang santun membuat banyak orang menjadi pengikutnya.
  • Kiai Makmun wafat.

26 Februari 2006:

Forum Musyawarah Ulama Kabupaten Sampang-Madura yang dimotori Kiai Ali Karrar Sonhaji meminta MUI seluruh kabupaten di Madura mengeluarkan fatwa sesat terhadap Syiah. Forum ini juga menyatakan tidak bertanggung jawab atas segala yang akan terjadi jika ajaran Syiah terus menyebar di Kecamatan Omben, Madura.

26 Oktober 2009:

Di bawah tekanan, Ustad Tajul menandatangani pernyataan tidak akan melakukan dakwah menyebarkan ajaran Syiah.

4 April 2011:

Muncul ancaman penyerangan terhadap Ustad Tajul. Dia terpaksa berlindung di rumah Wakapolres Sampang.

8 April 2011:

Forum Ulama Madura, PC NU Sampang, dan Muspida Kabupaten Sampang mengeluarkanpernyataan yang mendesak. Relokasi Ustad Tajul keluar dari Madura karena dianggap sebagai sumber konflik.

Juni 2011:

Ustad Tajul Muluk bersedia direlokasi selama setahun ke Malang atas biaya Pemkab Sampang.

28 Oktober 2011:

Terjadi kesepakatan damai antara Tajul Muluk dan Rois Al-Hukama yang difasilitasi Komnas HAM di Surabaya.

17 Desember 2011:

Rumah seorang warga Syiah Moh Sirri (56) di dusun Gading Laok, Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, dibakar massa.

Pembakaran terjadi dinihari pukul 03.00.

29 Desember 2011:

Sekitar 500 orang menyerang dan membakar rumah warga Syiah dan pesantren Misbahul Huda milik Ustad Tajul Muluk.

Ratusan warga Syiah akhirnya diungsikan ke GOR Sampang. Ratusan lainnya tetap berjaga di dusun didampingi aparat keamanan.

30 Desember 2011:

Dalam rapat koordinasi penyelesaian konflik sosial di Bangkesbangpol Kabupaten Sampang, Bupati Sampang Noer Tjahja mengatakan bahwa dalam jangka panjang warga Syiah akan ditransmigrasikan ke luar Sampang.

1 Januari 2012:

MUI Kabupaten Sampang menetapkan fatwa yang menyatakan ajaran yang dibawa Ustad Tajul Muluk sesat, menyesatkan, dan menistakan Islam.

2 Januari 2012:

PC NU Kabupaten Sampang mengeluarkan Surat Pernyataan yang menyatakan ajaran yang dibawa Ustad Tajul Muluk sesat, menyesatkan, dan menistakan Islam.

21 Januari 2012:

MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah sebagai sesat dan menyesatkan.

22 Januari 2012:

Sekitar 300 pengungsi Syiah di GOR Sampang diusir dari lokasi pengungsian oleh Pemerintah Kabupaten. Alasan pemerintah, GOR akan digunakan untuk merayakan HUT Sampang.

Keterangan: Sejumlah pengungsi menangis karena merasa masih terancam jika pulang ke rumah. Apalagi sebelumnya beredar sms bahwa mereka akan diserang kembali jika tak pergi dari Desa Karang Gayam.

23 Januari 2012:

Polisi menetapkan satu orang tersangka kasus pembakaran dan penyerangan rumah dan pesantren warga Syiah atas nama Musyrikan.

16 Maret 2012:

Ustad Tajul Muluk ditetapkan sebagai tersangka penodaan agama dengan jerat Pasal 156a KUHP jo UU No. 1/PNPS/1965.

10 April 2012:

Musyrikan, terdakwa tunggal pembakaran pembakaran pesantren dan rumah warga Syiah, divonis 3 bulan 10 hari.

12 Juli 2012:

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sampang menjatuhkan hukuman 2 tahun penjara kepada Ustad Tajul Muluk atas dakwaan melakukan penodaan agama.

24 Juli 2012:

Adanya pelarangan pengajian yang diselenggarakan di surau komunitas Syiah pada malam ke empat Ramadhan. Bahkan, seseorang dari salah seorang warga simpatisan yang coba melerai sempat terpukul jatuh oleh kelompok intoleran.

14 Agustus 2012:

Ustad Tajul Muluk bersama tiga ustad lainnya mengajukan uji Undang-undang Pasal 156a KUHP jo UU No. 1/PNPS/1965 ke Mahkamah Konstitusi.

23-25 Agustus 2012:

Terjadi intimidasi dan sweeping terhadap warga Syiah di Kecamatan Omben dan Karang Penang, Sampang, Madura. Ini dilakukan oleh sekelompok warga dari dusun di sekitar dusun warga Syiah.

26 Agustus 2012:

  • Pukul 08.00: terjadi konsentrasi ribuan massa mengepung perkampungan warga Syiah. Massa juga memblokade jalan dan memaksa pulang warga Syiah yang akan mengantar anak-anak mereka ke pesantren di Bangil. Keterangan: Sejak terlihat konsentrasi massa, warga Syiah bernama Iklil dan Zaini sudah menelepon Kapolsek Omben dan Kapolres Sampang. Kedua pejabat polisi itu berjanji mengirim petugas. Namun, di lapangan, hanya terlihat lima petugas yang bukan saja tak berdaya tapi juga tak mampu melakukan apa pun. Bahkan, menurut kesaksian Zaini, sementara polisi meminta warga Syiah untuk mundur dan malah menyerukan kepada para penyerang untuk terus maju.
  • Pukul 11.00: Sekitar 1.500 orang menyerang pemukiman warga Syiah, utamanya di desa Karang Gayam dan Bluuran, pada pukul 11.00. penyerangan dilakukan dengan batu, golok, tongkat besi, dan klewang. Keterangan: Korban warga Syiah terdiri dari satu meninggal atas nama Muhammad Hasyim alias Hamama (46), satu orang kritis atas nama Thohir (48), dan empat lain luka-luka, yakni Ummah (60, ibu Ustad Tajul), Marnoto (30), Matsiri (50), dan Abdul Wafi (50).
  • Properti yang dirusak dan dibakar mencapai 48 rumah, 33 mushala, 43 dapur dan 28 kandang ternak. Satu sepeda motor dibakar dan lusinan lainnya hilang. (Laporan 5 September 2012).
  • Pukul 14.00: Dua unit SSK polisi datang ke lokasi, mengevakuasi warga Syiah ke Sampang.

27 Agustus 2012:

  • Pukul 01.00: Polisi menempatkan warga Syiah di GOR Sampang. Keterangan: Menurut kesaksian Denni (sukarelawan Jaringan Solidaritas Kemanusiaan), pengungsi Syiah di GOR Sampang mencapai 211 jiwa, terdiri dari 43 pria, 60 wanita, 83 anak-anak, dan 25 balita. Seiring waktu, jumlah tersebut bertambah mengingat banyak warga Syiah yang berlindung di hutan.
  • Pukul 10.00: Korban tewas Muhammad Hasyim alias Hamama (50) baru dievakuasi polisi dari TKP dan kemudian dibawa ke RSUD Sampang.
  • Pukul 11.58: Gubernur Jawa Timur Soekarwo menawarkan ide lokasi untuk mencegah berulangnya kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang.
  • Pukul 19.00: Muhammad Hasyim alias Hamama dikuburkan.
  • Pukul 22.00: Enam pejabat Pemerintah pusat, Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Menteri Agama Suryadharma Ali, Mendagri Gamawan Fauzi, Kepala BIN Mayjen TNI Marciano Norman serta Menkumham Amir Syamsuddin, melakukan rapat di Gedung Grahadi, Surabaya. Para pejabat membahas usulan untuk mentransmigrasikan warga Syiah ke luar Sampang dan membahas pemindahan tahanan Ustad Tajul dari Sampang ke Sidoarjo.

30 Agustus 2012:

Ustad Tajul Muluk dipindahkan dari tahanan di Lapas Sampang ke Lapas Sidoarjo.

Polda Jatim menetapkan Rois Al-Hukama sebagai tersangka provokator penyerangan warga Syiah di Sampang.

3 September 2012

Ahlul Bait Indonesia menyampaikan surat terbuka kepada Presiden. Organisasi pengikut Syiah di Indonesia itu menolak usulan relokasi warga Syiah dari Sampang. Sebagai solusi, ABI menawarkan dialog dan mendesak penegakan hukum yang tegas.

Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo mengatakan di depan Komisi III DPR bahwa solusi paling mudah bagi kasus kekerasan di Sampang adalah merelokasi warga Syiah.

4 September 2012:

Polisi menangkap Sarifin otak penyerangan warga Syiah.

7 September 2012:

  • Ketua MK Mahfud MD menyatakan relokasi warga Syiah ke luar Sampang melanggar konstitusi.
  • Polisi menangkap Mukhsin otak penyerangan warga Syiah lainnya.
  • Warga Syiah di pengungsian mulai terjangkiti penyakit.

8 September 2012:

Rapat koordinasi Pemrov Jatim dan Pemkab Sampang menghasilkan tawaran penampungan sementara bagi warga Syiah, yakni di rumah susun di Jemundo, Sidoarjo, dan di perumahan di Sampang.

9 September 2012:

30 LSM yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Kasus Sampang menolak relokasi warga Syiah Sampang karena melanggar UUD 1945 Pasal 28E ayat 1. Usulan penampungan sementara juga dikhawatirkan hanya akan mengulang preseden nasib warga Ahmadiyah di transito.

13 September 2012:

Muhdar (40), warga Desa Kedungdung, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, masuk ke lokasi pengungsian warga Syiah dan berusaha membakar para pengungsi.

14 September 2012:

Sidang pertama pengujian undang-undang Pasal 156a KUHP jo UU Nomor 1/PNPS/1965 di Mahkamah Konstitusi.

16 September 2012:

Diselenggarakan Tablig Akbar “Mengokohkan Ahlussunnah Wal Jamaah Di Indonesia” yang diadakan di Masjid Al Furqon, Jakarta Pusat. Acara ini mengundang Sekretaris MUI Jatim Muhammad Yunus. Dia menyampaikan fatwa sesat MUI Jatim atas Syiah seharusnya ditiru MUI lain.

17 September 2012:

Lima pakar hukum pidana dari UGM dan UII Yogyakarta menyimpulkan, dalam hasil eksaminasi mereka, bahwa vonis hakim PN Sampang atas kasus Tajul Muluk telah melanggar ketentuan hukum formil dan materil, baik dalam penyidikan maupun persidangan.

18 September 2012:

DPP Ahlul Bait Indonesia meluncurkan “Buku Putih Mazhab Syiah”, di Jakarta.

20 September 2012:

Pengadilan Tinggi Jawa Timur menambah hukuman atas Ustad Tajul menjadi 4 tahun dalam putusan banding. Hakim beralasan Ustad Tajul telah menyebabkan penyerangan terhadap warga Syiah sehingga satu orang tewas dan ratusan lainnya menjadi pengungsi meski saat itu Ustad Tajul berada dalam tahanan.

22 September 2012:

Masa tanggap darurat pengungsi Syiah di GOR Sampang diperpanjang. Pemerintah sama sekali belum memiliki solusi. Rumah-rumah belum dibangun dan belum ada rencana memulangkan warga ke tempat tinggal mereka.
24 September 2012:

Aliansi Solidaritas Kasus Sampang melaporkan hakim PN Sampang dan PT Jawa Timur ke Komisi Yudisial karena tidak profesional dalam mengadili kasus Ustad Tajul Muluk.

24 September 2012:

Dalam pertemuan dengan Kabid Propam Tomsi Tohir muncul usulan pemulangan bertahap dengan sistem memperkuat kultur tretan.

26 September 2012:

DPP ABI bertemu dengan Kodam Brawijaya untuk membahas rencana Bakti Kemanusiaan.

28 September 2012:

Sidang kedua pengujian undang-undang Pasal 156a KUHP jo UU Nomor 1/PNPS/1965 di Mahkamah Konstitusi.

Beberapa Hal Terkait Persekusi Warga Syiah Di Sampang:

  1. Anggapan bahwa kekerasan terhadap warga Syiah dipicu oleh konflik keluarga antara Tajul Muluk dan Rois Al-Hukama tak dapat dibenarkan. Intimidasi terhadap warga Syiah sudah terjadi sejak 2006 sedangkan konflik keluarga dimaksud baru terjadi pada 2009.
  2. MUI Jawa Timur, MUI Sampang, dan forum ulama kerap menggelar pertemuan yang bertujuan menyebarkan kebencian kepada Syiah, terutama kepada Tajul Muluk dan pengikutnya.
  3. Kepolisian dan Pemda Kabupaten Sampang menjadi salah satu aktor dalam menyebarkan kebencian kepada warga Syiah. Dalam pertemuan-pertemuan, tak jarang oknum pejabat kedua institusi itu mengeluarkan ancaman kepada warga Syiah. Buktinya, di kabupaten-kabupaten lain di Madura yang juga ada pengikut Syiah, seperti di Bangkalan, Pemkab berhasil mengadakan dialog dan mampu meredam gejolak.
  4. Kepolisian juga gagal menangkap aktor penyerangan pada 29 Desember 2011. Malah korban, yakni Ustad Tajul, dikriminalisasi dengan pasal penodaan agama.
  5. Proses peradilan terhadap Tajul Muluk tidak profesional dan independen. Eksaminasi publik yang dilakukan pakar hukum pidana dari UGM dan UII Yogyakarta membuktikan hal itu.
  6. Solusi Bakti Kemanusiaan yang diusulkan oleh DPP ABI dan sejumlah LSM hingga kini tidak mendapatkan respons yang konkret. Padahal, rencana ini merupakan peta menuju reintegrasi yang efektif dan berkeadilan bagi seluruh pihak. Prasyarat keamanan bagi penyelenggaraan rencana Bakti Kemanusiaan ini hingga sekarang belum bisa dipenuhi oleh aparat keamanan.
  7. Hingga sekarang, cipta kondisi untuk pelaksanaan Bakti Kemanusiaan, seperti pembangunan posko pelayanan kesehatan dengan metode medis modern maupun alternatif, telah berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat kondusif menerima reintegrasi para pengungsi ke kampung halaman mereka. Namun demikian, Kesbangpol pimpinan Rudi Setiadi menolak rencana pembangunan sumur dan penghijauan di lokasi dua desa Bluuran dan Karang Penang.
{fcomment}

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post