Dinamika Rekonsiliasi Sampang

July 26, 2013Admin

alt

Catatan Update YLBHU tentang dinamika rekonsiliasi Sampang:

Kedatangan Menag Surya Dharma Ali (SDA) dan Menteri Perumahan Djan Faridz, yang keduanya dari PPP Sampang dan kota Surabaya sejak 3 hari lalu terutama di saat pematangan rekonsiliasi oleh Prof Abd A’la yang juga Rektor IAIN Sunan Ampel, menurut kami hanya untuk mengacak-acak rencana dan arah rekonsiliasi Prof A’la yang sangat bagus terkait pemulangan dan rekonsiliasi yang melibatkan polisi, tentara, dan pemberdayaan ekonomi.

Seluruh hasil pertemuan pihak kami dengan SDA dua hari ini isinya adalah upaya SDA untuk membuat warga Syiah bertobat karena menurut dia ini daerah mayoritas Ahlus Sunnah dan seharusnya ikut ajaran yang benar bukan ajaran sesat.

Dalam pertemuan itu juga, SDA menghadirkan kiai-kiai intoleran seperti Ali Karrar, Jafar Shodik, dan Doffir. Mereka hadir disertai Kesbangpol Sampang dan Soekarwo, dua pejabat publik yang terkenal begitu larut dengan kepentingan kiai-kiai intoleran.

Jadi jelas buat kami sikap SDA yang ingin memaksakan pindah akidah, syahadat ulang, menyebut aliran sesat dan perlunya taubatan nasuha menunjukkan bahwa dia bukan hanya intoleran tapi memang konsisten bersikap anti Syiah dan anti keragaman.

Tantangan serius dari kaum intoleran kiai-pemerintah  untuk merintangi pemulangan dan rekonsiliasi sejati menjadi PR berat kami. Dan hal ini harus coba kami jelaskan ke Presiden SBY yang akan datang akhir Juli ke Jatim dan berencana mengajak pihak ABI-YLBHU dalam informasinya kepada kami. Prof A’la jelas sekali membutuhkan strong conviction dari SBY untuk menjalankan misinya.

Selama kedatangannya ke Sampang dan Surabaya, alih-alih menengok pengungsi di Rusunawa, SDA malah menyuruh Pemprov Jatim mengirim ibu Tajul Muluk menghadap kepadanya di sekitar lounge di bandara. Kami menolak lantaran alasan usia ibu yang sudah sepuh dan kemudian hanya mengirim Pak Iklil dan Rosid.

Saat bertemu, Rabu lalu, SDA langsung menuding Iklil bahwa bukankah dulu waktu dia datang ke GOR usai kasus penyerangan 26 Agustus 2012, ibu Tajul setuju direlokasi? Iklil lalu mengklarifikasi tidak benar itu. Itu plintiran terjemahan dari bahasa madura yang dilakukan Rudi Setiadi Kepala Kesbangpol Sampang untuk mengarahkan relokasi. Rudi Setiadi ini dalam catatan kami  rekam jejaknya sangat pro kiai intoleran dan pengusiran.

SDA lalu meminta pertemuan berikutnya dilakuan esok pagi dengan mengumpulkan pegowes dan keluarga Iklil. Saat pertemuan dilakukan pagi hari Kamis ini, ternyata SDA berupaya untuk membuat warga Syiah untuk taubatan nasuha dengan mengundang kiai-kiai intoleran di samping SDA disertai Kepala Kesbangpol Sampang dan Soekarwo.

Jawaban kami saat bertemu SDA yang didampingi Karwo dan kiai-kiai intoleran itu kira-kira poinnya berkata bahwa sebaiknya menyelesaikan masalah ini mengutamakan pijakan persaudaraan, kebangsaan dan warga negara. Bukan soal mazhab dan mayoritas-minoritas. Apalagi pengungsi Syiah telah turun-temurun menjadi warga di kampung Bluuran dan Karanggayam.

Kita mengatakan bahwa kita berharap pengungsi Syiah diyakinkan dengan hikmah, pencerahan dan dalil. Keyakinan yang didorong dengan tekanan dan paksaan bukan hanya tidak konstitusional tapi juga semu, bahkan memalukan bagi cara dakwah Ahlus Sunnah. Kita menawarkan silakan saja para kiai jika hendak membuat mereka kembali ke ajaran lama dan mendakwahi warga Syiah bahkan 10 jam sehari, dan silakan jika mereka ingin kembali ke ajaran Ahlus Sunnah, tetapi jangan ada paksaan karena itu juga tak akan berarti apa-apa bagi kepentingan Ahlus Sunnah, dan itu adalah tindakan inkonstitusional. Tetapi kemudian SDA dengan entengnya bilang, “Wah lama dong! Perlu proses panjang kalau begitu. Kita maunya ada taubatan nasuha kembali ke ajaran yang benar secara terbuka di depan kiai, pemerintah dan media.”

Sampang yang rukun, sejahtera dan damai bisa menjadi inspirasi penyelesaian konflik dan kampung kerukunan agama. Tetapi ini jelas akan sulit terwujud jika para pejabat publiknya kualitasnya seperti Menag SDA yang ingin hanya satu paham eksis sendirian bahkan jika harus dengan cara memaksa dan menolerir kekerasan.

Salam,

Hertasning Ichlas
Direktur YLBHU

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post