Dilema Konservasi Hutan dan Ketahanan Pangan

April 17, 2017Admin

Tingginya food demand memaksa kita memperluas sawah-sawah dan kebun-kebun dengan merampas area hutan (forest clearing). Setiap menitnya, luas hutan berkurang sekitar 40 hektar atau setara dengan 48 lapangan sepak bola.

Sementara slash and burn menjadi metode yang paling umum untuk melakukannya. Jangan tanya berapa banyak karbon yang diemisikan. Faktanya, 10% emisi karbon dunia disumbang oleh deforestasi.

Setelah lahan dibuka dan aktivitas pertanian berlangsung, timbul masalah berikutnya, yaitu emisi green house gas berupa gas metana (CH4) dari ternak yang 20 kali lebih mengancam dibanding CO2, juga N2O dari fertilizer yang potensi heat-trapping-nya 300 kali lebih kuat dari CO2.

Pangan, yang kata Bung Karno menyangkut urusan hidup dan mati suatu bangsa, ternyata lebih dari itu, juga menyangkut urusan hidup mati flora dan fauna. Pertanian (sampai saat ini masih) membutuhkan lahan luas sebagai tempat tumbuhnya tanaman dan hidupnya hewan ternak.

Di mana lagi kita mencari lahan kosong kalau bukan hutan tropis dan hutan gambut yang menjadi rumah bagi hewan dan tumbuhan. Deforestasi yang merenggut sedikitnya 10.000 spesies per tahun, membawa dunia ke ambang krisis biodiversitas.

Deforestasi yang selama ini kita kecam dan kita salah-salahkan, pernahkah kita sadari bahwa itu tidak terlepas dari kepentingan kita, yaitu untuk memperluas lahan pertanian, untuk sediakan pangan. Contoh yang begitu nyata misalnya, fenomena kebakaran hutan Indonesia yang sering dikaitkan dengan perluasan kebun sawit.

Saban tahun, kita sesali dan tangisi kejadiannya. Tetapi anehnya, giliran mendapat kabar bahwa Indonesia menjadi produsen CPO (Crude Palm Oil) nomor satu di dunia dan memberikan benefit bagi perekonomian, kita bertepuk tangan kegirangan. Padahal, besarnya bayaran dari prestasi itu menjadikan Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan laju deforestasi tertinggi di dunia.

Hal lucu lainnya adalah ketika dunia dalam COP22 November lalu sepakat menekan laju deforestasi 50% pada 2020 untuk melindungi hutan dan spesies di dalamnya. Di lain pihak, dunia yang sama bertekad untuk menggenjot produksi pangan untuk ketahanan pangan menyambut populasi 9 miliar di tahun 2050.

Dua ambisi ini saling berlawanan, sehingga keduanya akan sulit untuk berkembang.

Misalnya, ketika yang satu memperluas lahan pertanian sebagai upaya mengatasi kelaparan, yang satunya lagi memprotes dengan propaganda-propaganda yang mengatasnamakan keselamatan bumi. Hal serupa juga terjadi saat pihak yang satu berupaya meningkatkan produktivitas pertanian melalui pengembangan GMO (Genetically Modified Organism), pihak satunya lagi-lagi protes dengan alasan mengancam biodiversitas dan berbahaya bagi manusia. Sungguh dilematik!

Oleh karena itu, diperlukan upaya mengatasi dilema pangan dan lingkungan agar keduanya dapat berjalan beriringan. Teknologi pertanian yang dari tahun ke tahun meningkat dari segi pendanaan/investasinya, diharapkan mampu membuka era baru dalam intensifikasi pertanian agar tidak lagi mengandalkan ekstensifikasi pertanian yang menjadi “biang keladi” perseteruan dua pihak tadi.

Agroteknologi yang sudah sangat berkembang harus bisa diaplikasikan oleh seluruh petani agar dapat memaksimalkan kemajuan sistem irigasi, varietas tanaman, dan mesin-mesin pertanian.

Untuk melakukan ini, diperlukan keseriusan pemerintah dalam memberi penyuluhan serta menyediakan instrumen, bibit, dan infrastruktur penunjang pertanian. Dengan memaksimalkan potensi lahan yang ada, hutan akan dapat diselamatkan.

Selain itu, urban farming, terutama model vertical farming yang menjadi trend kota-kota maju belakangan ini juga harus dijadikan mainstream di masyarakat untuk menjamin ketersediaan pangan di ramainya pasar pangan perkotaan sekaligus mewujudkan kota yang sustainable.

Masyarakat pun dapat turut andil dengan dua cara. Cara pertama adalah meningkatkan pola makan vegetarian. Mengurangi konsumsi daging akan mereduksi supply hewan ternak yang pada ujungnya akan menurunkan emisi metana.

Bahkan kalau ditelaah lebih jauh, pakan ternak umumnya berasal dari kedelai. Berdasarkan data soyatech.com, 85% produksi kedelai digunakan untuk pakan ternak, dan hanya 6% yang dimakan langsung oleh manusia.

Dengan demikian, ada dua kali proses yang melibatkan produksi daging, yaitu pertanian kedelai dan peternakan sapi yang keduanya menyumbang emisi. Jadi, akan lebih baik jika kalori dari tumbuhan langsung masuk ke tubuh manusia, bukan ke tubuh hewan ternak.

Cara kedua adalah dengan tidak menyia-nyiakan makanan. Sudah dibahas panjang tadi, betapa besar environmental cost yang diperlukan untuk menghidangkan sepiring makanan di meja makan kita.

Ayo ubah perilaku makan agar hutan tidak lagi berubah menjadi sawah!

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/dilema-konservasi-hutan-dan-ketahanan-pangan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post