Ahmad Taufik: Yang Pahit Telah Kita Tertawakan*

April 2, 2017Admin

Senyum. Kumis. Berewok—yang belakangan sering dia panjangkan. Batik. Belangkon. Gesper hijau ala Betawi. Kacamata baca nangkring di ujung hidung. Laptop dan tasnya yang mulai kucel. Sarung batik. Dua pasang cincin besar—yang beberapa kali sempat dia tertawakan saat saya kedapatan mengamatinya. Tawa renyah. Kelakar. Itulah kira-kira yang terus muncul dalam benak saya tiap kali mengingat sosok Almarhum Ahmad Taufik.

Benda-benda yang menempel di tubuhnya itu nyaris semuanya dia maksudkan sebagai sebentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap hegemoni. Berewok, misalnya, seperti pernah dia sampaikan ke saya langsung, dia perpanjang untuk membuyarkan stigma bahwa itu adalah label kaum radikal yang sangat bertentangan dengan sikap dan perilaku Almarhum yang cenderung liberal. Kalung tasbih yang terkadang melingkar di lehernya menyatakan sikap anti fashion tak kalah lucu.

Batik, belangkon, sarung (batik), gesper Betawi dan dua cincin gede warna cerah juga memberi pesan perlawanan yang tegas. Agak susah saya menemukan orang yang begitu total menolak dominasi seperti Almarhum. Caranya berpikir dan berbicara, juga gayanya menulis, semuanya menunjukkan betapa keras dia melawan apa yang dia anggap sebagai penyeragaman yang cenderung menindas.

Sesekali ingatan saya menangkap beberapa akronim liar buah kreasinya. Akibat kemampuan uniknya ini sampai sejumlah rekannya kebingungan menuliskan kepanjangan AT yang dia gunakan. Dan Almarhum memang suka mengotak-atik AT jadi berbagai kepanjangan yang melompat-lompat. Salah satunya adalah Anak Tenabang (seperti yang tertera di akun Twitternya).

Suatu kali dia pernah mengocok perut anggota grup WA Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia dengan menyusun rangkaian kata berakhiran AT. Lalu dia tutup dengan kata TamAT. Di akun Twitter juga dia memanjangkan namanya, Taufik, jadi Tenaga Ahli Untuk Fakultas Ilmu Komunikasi (TAUFIK).

AT atau Ate memang mampu menertawakan hampir semua hal, termasuk kesulitan dan penderitaannya. Saya kira itu memang cara dia membuat nyaman siapa saja lawan bicaranya yang seringkali jauh di bawah dia—baik dalam umur, pengalaman maupun wawasan. Dengan menertawakan diri sendiri dan berkelakar, Almarhum ingin menyampaikan pesan penting dalam perjuangan: berjuanglah dengan cinta, ikhlas dan penuh kerelaan. Dan jangan lupa hadapi semua dengan jiwa adem, tenang, nyantai.

Saya masih ingat adegan-adegan demo bersamanya. Di berbagai aksi itu dia tenggelam di antara momen serius-panas dan canda-lepas. Dengan mudah dia bisa berbalik cepat dari orasi berapi-api menjadi guyonan menyegarkan. Di salah satu momen aksi unjuk rasa di depan Kedubes Arab Saudi yang hari itu dihantam terik matahari, saat ada pegawai kedutaan berkostum khas Arab kebetulan melintas, Almarhum tiba-tiba berteriak keras: “Malik Salman, Ente ka’aal!” (Artinya: “Raja Salman, Kau kont**!). Saya pun langsung kepingkel nahan tawa. Tapi tidak halnya dengan Almarhum, yang setelah itu tanpa canggung kembali serius.

Saya juga masih ingat operan-operan gagasan nakal Almarhum yang sering datang di saat tak terduga. Manakala menanggapi tenggat waktu pendaftaran bakal calon gubernur DKI yang terlalu ketat untuk jalur independen, Almarhum sempat melontarkan gagasan “time amnesty” sebagai plesetan dari “tax amnesty”. Lalu dengan enteng dia bilang: “Masa’ orang kaya aja yang bisa dapat tax amnesty, sementara kita, rakyat biasa, tak boleh dapat time amnesty.” Seisi ruangan YLBHU yang berlatarbelakang aktivis saat itu hanya mampu ternganga sebelum akhirnya tertawa lepas bersama.

Pencalonannya untuk merebut DKI 1 tak pelak menuai kontroversi di kalangan teman-temannya. Macam-macamlah anggapan yang muncul. Mulai dari umpatan terang-terangan sampai kasak-kusuk busuk di belakang. Padahal, siapa saja yang dekat dengan dia paham betul motivasinya sama sekali jauh dari ambisi politik pribadi—yang selalu dia korbankan untuk tujuan lebih mulia. Toh kita semua sudah saksikan keengganannya meminta imbalan apapun atas peran dan aktivitasnya selama ini.

Namun, dasar AT, dia sama sekali tak pernah marah atau kecewa terhadap berbagai cemooh dan kasak-kusuk itu. Dia sungguh telah melampaui urusan caper dan baper yang kerap menindih ego kita. Seperti kesaksian Sayuti Asyathri: “Almarhum telah mati sebelum mati.” Maksudnya dia telah mampu meredam egonya demi memperjuangkan nilai-nilai yang dia yakini.

Gairah terbesar AT memang di dunia pers. Tulis-menulis adalah cara paling ampuhnya dalam berjuang. Kecuali sedang tidur atau rapat, saya sering melihatnya sedang menulis. Dan jika tidak, maka dia akan mengajak diskusi untuk membuat tulisan. Entah berapa banyak tulisan yang telah dia hasilkan, baik yang pakai nama sendiri atau nama samaran, tapi hampir pasti semua tulisannya berisi pesan perlawanan dan pemberontakan.

Menulis sebagai perlawanan memang sudah mendarah daging dalam dirinya. Bahkan saat menulis biografinya sendiri di buku Teknik Wawancara, dia tak lupa menikamkan protesnya. Begini tulisnya: “Penulis lahir di sebuah rumah sakit dulunya bernama RS Slamet di Jakarta, 12 Juli 1965. Saat itu, menurut Almarhumah nenek saya, bertepatan dengan peringatan malam isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sejak lahir hingga lulus sekolah menengah atas tinggal di jalan Kebon Pala I/79 B, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penulis sempat mengenyam pendidikan di sekolah Tionghoa di kawasan yang kini jadi (gedung) pasar Tanah Abang. Namun, sekolah itu dibongkar, karena pasar segera dibangun.”

Sejak pertama kali saya kenal Almarhum sekitar 1990-an, tatkala dia sedang menyusun buku tentang seks dan gerakan mahasiswa, saya sudah menemukan karakter yang menyegarkan. Sewaktu melihat judul naskah buku itu tergeletak di meja rumah Kang Jalal, pikiran saya menangkap pesan yang keliru: Almarhum sedang membuat reportase ihwal kenakalan seks mahasiswa. Tapi ternyata isinya beda: mengajak mahasiswa menikah muda. Setelah berputar-putar menjelaskan kerawanan moral remaja, Almarhum memberikan solusi keagamaan berupa pernikahan dini. Dan mungkin karena pesan moral buku itulah akhirnya Kang Jalal pun bersedia memberi kata pengantar.

Cara Almarhum menyampaikan pesan moral menyegarkan sekaligus mengejutkan itu rupanya terus berlanjut. Bertahun-tahun kemudian, saat kami mulai dipertemukan oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia, kejutan-kejutannya kembali saya temukan dalam bentuk lebih utuh. Almarhum seperti sudah sepenuhnya sadar bahwa berjuang itu harus fokus pada prinsip, bukan pada cabang-cabang dan bias-biasnya. Jika perjuangan itu kehilangan fokus, maka seringkali sang pejuang justru hanyut larut tenggelam dalam hiruk-pikuk dan kegaduhan menggerupisi printhilan-printhilan tak penting.

Saya percaya dunia pers Indonesia beruntung menemukan seorang Ahmad Taufik. Berkat jurnalis-cum-aktivis pemberani dan tanpa pamrih seperti dialah pers Indonesia berhasil lolos dari jerat masa lalunya yang kelam. Tanpa orang seperti dia, boleh jadi pers Indonesia akan bernasib sama sialnya dengan pilar-pilar demokrasi lainnya di era Reformasi ini: terombang-ambing di antara intimidasi kapitalis dan kelicikan oportunis.

Suka atau tak suka, satu-satunya barang yang benar-benar masih mampu selamat dari mutasi genetik oligarki masa lalu adalah pers. Dan di situ, seperti diakui oleh banyak sahabat dan insan pers umumnya, jejak Almarhum Ahmad Taufik takkan mudah dihilangkan—untuk tidak mengatakan sangat menonjol. Tak urung sebuah media nasional berbahasa Inggris, The Jakarta Post, menyebutnya sebagai the legendary journalist.

Ahmad Taufik mengajarkan banyak hal kepada banyak orang, termasuk saya. Tapi caranya mengajarkan semua nilai itu sedemikian cantik, lincah dan pakai jurus Getar Ayun Seribu Depa sehingga nilai-nilai itu melesak masuk dalam hati kita tanpa terasa. Dan jika saya masih diberi kesempatan, jurus pembelajaran unik ini akan saya uraikan lebih jauh. Tapi, intinya, jurus ini kuat menusuk tapi halus mendarat.

Ahmad Taufik telah mengajarkan keberanian dengan tampil ke depan, tanpa merasa sok jagoan. Dia juga mengajarkan bahwa berbuat baik itu jangan terlalu banyak kalkulasi dan cincong. Spontanitas adalah kata kuncinya. Jika kita ajak dia melakukan sesuatu yang baik tapi berisiko, bahkan di saat kebanyakan orang akan minimal minta waktu berpikir, maka Almarhum justru akan memaksa orang yang mengajak itu untuk jangan pernah mundur.

Almarhum juga mengajarkan pentingnya memiliki pergaulan luas. Tidak kikuk menghadapi golongan-golongan beda warna, apalagi jika masih ada tujuan bersama yang bisa diperjuangkan. Dia percaya bahwa pada akhirnya semua yang tertindas kudu bergandeng tangan melawan penindas sebenarnya. Ini memang sulit dipahami kaum otak picik. Tapi Almarhum bahkan tak segan berhubungan dengan orang atau kelompok yang mengancam nyawanya asal mereka mau diajak melawan penindasan.

Akhirnya, selamat jalan sahabAT… dunia telah menjadi saksi kebaikan-kebaikanmu, dan akhirAT akan menjadi tempAT balasan terbaikmu.

 

La haula wala quwwata illa biLLAH

 

*Judul ini saya serap dari kutipan ungkapan Almarhum yang tertera dalam sebuah media.

 

Oleh Musa Kazhim | Pembina YLBHU

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post