Ahmad Taufik Pejuang Kemanusian yang Spiritualis

March 31, 2017Admin

Saya pertama kali mengenal Bang Ate ketika ada acara pelatihan PRODEM di Magelang ketika itu saya melihat Bang Ate sebagai sosok yang humoris karena ucapan dan sikapnya yang selalu mengundang tawa. Saya bersukur bisa lebih mengenal Bang Ate ketika saya begabung dengan LBHU, di awal bergabungnya saya dengan LBHU saya jarang bertemu dengan bang Ate karena beliau masih jarang ke LBHU dan bisa bertemu ketika ada rapat saja tetapi setelah deklarasi Bang Ate mencalonkan diri sebagai gubernur. Bang Ate sering datang ke LBHU, beliau pernah berkata bahwa disini saya nyaman untuk mengetik.
Bang Ate sosok yang membuat orang lain bisa nyaman dengan dirinya. beliau adalah seorang Kawan, Abang, dan juga Bapak. Beliau tidak pernah menggurui atau mengeluarkan kata-kata yang menyakiti walaupun beliau atasan saya di LBHU. Saya mungkin orang yang paling sering membuatkan kopi di LBHU untuk Bang Ate, Tetapi permintaan Bang Ate untuk membuatkan kopi atau membeli makanan kepada saya itu sangat sopan dan menghibur (kopi master lah atau mengatakan puji Tuhan/Haleluya).
Bang Ate sosok yang sangat menghargai orang lain. Beliau pernah meminta pendapat saya tentang pendidikan karena beliau harus mengisi materi di workshop para guru beliau menuliskan ide-ide saya tanpa rasa gengsi dan akhirnya bahan untuk presentasi beliau selesai dan ketika sudah di presentasikan beliau mengucapkan terima kasih, saya terharu karena saya tahu kelas Bang Ate. Beliau betul-betul sosok yang menghargai orang lain. Bang Ate pula salah satu yang sering memberikan semangat kepada saya untuk cepat menyelaisan studi bahkan beliaulah salah satu yang memberikan rekomendasi sehingga saya mendapatkan kesempatan studi, ketika sakit saya bertemu beliau di RS Dharmanis beliau tersenyum dan justru beliau yang menghibur kami dan masih mendorong untuk terus belajar beliau berkata, lu cepet doktor biar bisa buka klinik jadi guwa kesitu,hee beliau sudah seperti ayah sendiri.
Setelah pulang dari karbala beliau hampir setiap malam tidur di atas kursi yang ada di ruangan Yahuwa. Saya memperhatikan beliau setiap selesai melaksanakan shalat selalu membaca Al-Quran dan membaca amalan-amalan yang selalu beliau bawa dan itu dilakukan cukup lama. Bahkan saya pernah menunggu lama sebab itu tempat shalat di kantor mungkin beliau tidak tahu ada yang menunggunya. Beliau sering mengatakan kepada saya, wildan dan syahid. Apa sih hidup ini? Jangan terlalu serius, jalani aja, dunia kok.
Pernah satu ketika pukul 11 malam kita berdiskusi dan membuat perencanaan aksi untuk menolak Raja Salman dan aksi solidaritas untuk rakyat palestina, yaman dan syria. Didalam perbincangan itu Bang ate mengatakan “jangan mudah terpelatuk” lalu salah satu dari yang hadir menanyakan apa itu terpelatuk Bang beliau menjawab terpelatuk yaitu, mereka yang menyediakan senjata tapi kita yang melatukkannya, sambil terseyum dan minum kopi. Lalu Bang Ate melanjutkan pesannya, kita harus kritis dalam menerima berita jangan sampai kita tertipu sebab pemerintah tidak tegas mengambil posisi dalam menciptakan perdamaian. Indonesia sebagai negara yang aktif menjaga perdamaian dunia seharusnya terjun langsung dalam perdamain di Palestina, Yaman dan syria. Setelah memberikan saran-saran tentang gerakan, pemikiran kepada kawan-kawan. Setelah bubar Beliau melanjutkan mengetik dan mengakhiri malamnya dengan menjalani amalan spiritual yang luar biasa di ruangan Yahuwa. Dibalik kerasnya beliau tetapi selalu meneteskan air mata ketika dihadapan tuhannya.
Melihat beliau saya menjadi teringat dengan pesan salah satu guru saya yang berkata, bahwa salah satu ciri orang tinggi spiritualnya yaitu individu yang ingin memberikan kenangan baik, (“lisana shidqin fil akhirin”) ingin memberikan kontribusi atau kenangan indah setelah dirinya tiada dan seseorang yang meninggalkan kenangan indah di dunia, pasti akan di kenang oleh orang-orang dan generasi selanjutnya.
Selamat jalan Bang, Abang sudah menjadi pemenang semoga kita bisa menjalani kehidupan seindah kehidupan Abang, Innalillahi Wainnalillahi Rajiun

 

Fahmi LBH Universalia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post