“40 Hari Pak AT”

May 2, 2017Admin

40-HARI AT. Saya ingin melanjutkan tulisan tentang AT. Tentu tulisan pendek karena itulah jenis tulisan favorit saya, selain karena saya tak mampu menulis panjang-panjang tapi penting.

Kepada kematian, kita yang hidup mengambil banyak pelajaran apalagi jika yang pergi adalah orang yang istimewa. Kini saya menghayati 40 hari kepergian sahabat saya, sahabat kita semua alm Ahmad Taufik Jufry.

Saya terus berusaha mengambil pelajaran dari hidupnya yang hangat penuh canda tapi sekaligus penuh kepedulian dan kasih kepada manusia terutama manusia di bagian bawah kelas sosial. Sisi jenaka dan lucunya banyak sekali. Mungkin lain waktu saya bisa mendaras jenis-jenis kelucuannya yang otentik. Perpaduan unsur betawi-arab dan pembangkangannya terhadap modernitas dan kemapanan apapun mulai dari busana hingga kata.

Kali ini saya mau meresapi jalan sufistik yang sebenarnya dia jalani tanpa dirinya menyebut-nyebut sufi apalagi merasa menjalaninya semasa hidup.

Hidup bagi seorang AT terasa lebih tentram, damai dan penuh kasih jika dihayati sebagai sebuah perjalanan yang wajar bahkan biasa-biasa: di dalamnya kita memberi waktu, tempat dan tenggang rasa kepada kesalahan, ketidaksempurnaan, dan perbedaan yang paling tajam sekalipun. Dia pernah bilang “apa sih dunia ini. Kita jalani saja,” ketika itu dia mengatakannya untuk menghibur ketidaksempurnaan karena sesuatu yang terlepas dari genggaman kami.

AT sangat pandai menerima kekurangan-kekurangan dan perbedaan. Mungkin itulah yang disebut tepo seliro. Tapi kepada dirinya sendiri seperti ada upaya keras untuk terus mendidik dirinya menjadi orang biasa. Orang kebanyakan. Menjadi seorang lelaki biasa di tengah orang-orang biasa. Justru dengan cara begitu, sebaliknya, kepada orang lain dia mudah saja untuk memberi penghargaan dan perhatian dengan kadar luar biasa sehingga berkesan dan kesannya menghujam begitu dalam ke hati orang bahkan untuk hal-hal kecil dan remeh.

Bermodal sikap dan pandangan dunia seperti itu hidup AT jadi lebih bertumpu kepada “apa” (pilihan dan tindakan) bukan tentang “siapa”.

Kita jadi tak mudah menuntut orang lain memperlakukan kita berlebihan, tak mudah jatuh oleh sanjung puji, tak bercita-cita menjadi orang besar atau tak mudah kecewa dengan orang lain atau teman yang pergi atau berbeda jalan.

Seterusnya kita tak memberi jalan untuk munculnya pretensi seolah kita telah menjadi lebih besar dari diri kita sendiri. Sebuah ilusi maha-raya tentang keakuan yang banyak menghinggapi manusia modern.

Dengan terus mendidik diri sebagai orang kebanyakan, kuta bisa dengan mudah menertawakan rasa sakit dan kesusahan justru dengan maksud agar tak mudah patah dengan cobaan, tak mudah mengeluh dan lebih penting menjaga prasangka baik terus-menerus kepada sang pencipta yang begitu baik dan nyata kebaikannya sehingga kita mudah untuk taken for granted.

Pak AT pandai sekali meringankan hal-hal berat dan serius dengan banyolan. Dia membenarkan pesan bahwa lelucon dan kejenakaan adalah tanda kematangan hidup.

Bang AT, sambil sering tertawa dalam hati mengingatmu, saya terus belajar pelajaran-pelajaran yang engkau titipkan anehnya tanpa terasa sedang belajar dan tanpa terasa dirimu sedang menitipkan sesuatu. Ya kan? (AT-mode-on)

 

Hertasning Ichlas

{Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia}

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prev Post Next Post